Haii, Aku Lenta
Akulah si bungsu yang sudah menjadi piatu itu, dan inilah sebagian kisah dewasaku yang sepertinya bahuku dianggap kuat oleh Tuhan,
Aku terlahir di keluarga yang cukup harmonis, ada bapak dan mama juga kakakku, kami tinggal disebuah rumah yang ada di Kota Bekasi, mungkin aku terlahir dengan berkecukupan, orang tuaku bekerja semuanya, jadi sedari lahir sampai dengan usiaku di 13 tahun orang tuaku mempekerjakan "Mbak" yang sudah beberapa kali ganti. Mungkin secara tidak langsung disitulah kedewasaanku dimuai.
Aku selalu disekolahkan di sekolah yang sama dengan kakakku, kakakku seorang pria yang bernama Nino, dia adalah pria yang tidak banyak mengatur adiknya, tapi selalu marah jika aku mungkin tidak melakukan hal baik. Umurku berjarak 4 tahun dengannya, namun disekolah kami hanya berjarak 3 tahun karena ketika aku masuk Sekolah Dasar umurku belum mencukupi namun bagaimana caranya orang tuaku berusaha agar aku bisa masuk Sekolah Dasar itu.
Aku selalu ingat bagaimana susahnya orang tuaku bekerja, disatu moment ketika aku dan kakak berangkat sekolah dalam keadaan hujan, bapak mengantar kami mengunakan motor dengan bermantel jubah sehingga aku dan kakak hanya melihat jalanan yang terlihat dari lubang bawah mantel tersebut, kalau diingat saat itu kami tidak merasa malu dengan teman-teman, sebaliknya kami malah tertawa dengan senang di motor saat itu, melihat pengorbanan bapakku yang datang ke kantornya menjadi telat.
Ketika aku naik ke SMK , kakak sudah kuliah, sejak kuliah itulah kami menjadi berjarak karena mungkin sibuk dengan kuliah dan teman-teman barunya, tetapi jika dirumah Ia tetap selalu usil dengan selalu mengkelitiki pinggangku sampai aku tersulut emosi, meski saat ini itu hal yang selalu ingin aku alami seumur hidupku. Setelah Ia lulus kuliah, ia mendapat pekerjaan yang bagus, Aku sangat bangga kepadanya, sampai dimana hari Ia menemukan pasangan hidup dan lalu menikah, waktunya untukku semakin sedikit, aku dirumah menemani bapak dan mama,
Walau waktunya menjadi kurang untuk keluarga, Ia tetap mengajak kami jalan ke mall seringnya. Saat istrinya Hamil, ia dan kakak iparku tinggal dirumahku selama 9 bulan, Mama selalu ikhlas kepada kakak iparku, memasak, bahkan membeli makanan matang seolah menjadi kebiasaannya setiap hari. Aku pun senang karena dalam waktu sebentar akan mempunyai keponakan, Setelah 9 bulan berjalan, datanglah Covid-19 itu ke indonesia, bahkan ketika kakak iparku melahirkan hanya boleh ditemani suami saja, jam kunjungpun menjadi berkurang, ketika kami keluarga berkunjung, anak itu keluar dari ruangan seolah ingin menyapa kami,matanya terbuka dan memeletkan lidahnya, anak itu dinamai Rakabima, anak bayi yang tidak tahu diumur berapa dia ditinggalkan Oma (mamaku) di 3 bulan kedepan.
Ya, Mamaku meninggal setelah usia Rakabima 3 bulan, tepat di 6 Januari 2021 pukul 23.58 duniaku hilang. Waktu itu mamaku berlibur dirumah orang tuanya (simbah putriku) di Jogja, Mama hanya sendiri karena waktu itu covid, dan aku tidak bisa libur dikerjaan karna closing year, kakaku masih punya bayi 3 bulan sehingga tidak bisa ikut, sedangkan bapakku saat itu menemaniku dirumah karna kakakku dan keluarga kecilnya pindah kerumah istri, setelah natal kondisinya drop hanya karena salah minum yang ternyata beberapa saudaraku pun merasa mual dan muntah setelah minum minuman yang sama. Mungkin kondisi mamaku saat itu sedang tidak baik-baik saja tanpa sepengetahuan keluarga, tanteku menginfokan beberapa kali mama masuk IGD, terakhir keluhannya sesak dan lemas. sampai akhirnya Mama paksa pulang ke Bekasi,
Setelah mama sampai dirumah, kondisinya semakin menurun, ia hanya tidur saja seharian, 2 hari setelah pulang kondisi mama semakin parah, nafasnya tersengal-sengal, saat itu juga aku dan bapak membawanya ke rumah sakit, setelah ditangani di IGD hasil rontgen mamaku menunjukan kondisi paru-parunya putih full penuh cairan, saat itu juga mamaku dianggap terkena covid, padahal beberapa kali tes ia negatif sebelum sampai di Bekasi.
Setelah 4 hari dirawat mamapun menyerah, tepatnya setelah dipasang ventilator, saat itu aku bertiga bapak dan kakak dirumah, HP ku berdering kencang karena sengaja ku kencangkan agar ada info apapun itu aku tetap stay. tepat dijam 23.00 dokter itu memberi kabar yang membuat duniaku runtuh dan berhenti seketika, saat itu HP ku loudspeaker sehingga bapak dan kakaku mendengarnya juga. saat itu lah kami bertiga berteriak sejadinya, bapak memukul kaca buffet sampai pecah, kakaku menjerit lebih kencang jeritannya dari aku. saat itu jg aku merasa sanggup untuk melanjutkan telfon itu. Dan kami bersikeras untuk mamaku dikubur mandiri bukan secara covid, bapak langsung menuju rumah sakit dengan sesak didada, aku dan kakak menunggu rumah dan tetanggapun berdatangan saat itu ditengah malam.
Seperti mimpi malam itu, bahkan sampai dengan aku menulis ini rasa sesak dan bersalah itu masih ada, sesak ditinggal Ibu yang selama ini selalu menengahi apapun yang terjadi dirumah, Ibu yang selalu bekerja keras lembur dan mengajar Les sampai malam, agar aku dan kakak bisa kuliah dengan baik. Ibu yang menjadi garda terdepan saat aku dan kakak terkena omelah bapak. Ibu yang masakannya tidak bermacam-macam namun selalu enak, She's so perfect.
Pagi itu hujan deras sekali seakan langitpun merasakan kesedihanku, pukul 5.30 pagi kami memberangkatkan mama ke jogja karena simbah putriku menunggunya, percayalah hati kami tidak bisa membedakan mana sedih dan amarah, semua campur aduk, kenapa mama harus meninggal, kenapa mama menyerah, semua karna covid yang meraja lela sampai kami keluarga tidak boleh menemaninya.
Setelah 6 hari kemudian simbah putriku menyusul mama, saat itu keluarga besar kami benar-benar kalut. Namun kami dipaksa untuk kuat melanjutkan rencana Tuhan. Hari terus berganti, bumi seolah tetap berputar kencang ketika duniaku rasanya berhenti di hari mama meninggal. Setiap hari kami hanya bisa saling menguatkan satu sama lain, keponakanku bisa menjadi obatku saat itu. Banyak hal indah dan tidak aku alami setelah kepergian Mama.
Disaat itu saya sudah memiliki seorang pria yang bernama Yungki, ia hadir seolah menjadi penawar hati yang sedang kalut, ia pria yang bersahaja, tidak banyak gaya, sederhana sekali, disitulah dunia saya mulai bangkit lagi karena ada support darinya. Sampai di satu tahun setelahnya kami memutuskan untuk bertunangan, dan tahun selanjutnya menikah, Ya disana tidak ada hadirnya Mama, tidak ada nasehat dan pengetahuan tentang rumah tangga. Saya pun sudah membayangkan mama tidak akan melihat cucu dari anak perempuannya.
Setelah menikah, aku suami dan bapak pindah kejogja, rumah dibekasi itu ditempati kakak dan keluarga kecilnya, keputusan yang berat namun saat itu aku hanya berpikir bisa lebih dekat dengan mamaku, tanpa sadar kakakki merasa sepi dan ditingal keluarganya, setelah 2 tahun aku pindah ke jogja, kondisi kakaku tiba2 drop karena asam lambungnya, sampai ia dirawat, seminggu setelah pulang dari rumah sakit ia drop dan masuk ICU, disitu bapak bolak-balik bekasi-jogja, saat kakaku di ICU ia telat sampai karena bisnya terlalu lama dalam perjalanan, Sehingga setelah sampai di RS, kakaku sudah kritis dan sudah tidak sadar diri, detak jantung melemah kemudian datanglah seorang pastor yang memberikan sakramen perminyakan, dan kemudian menghebuskan nafas terakhirnya. tepat di jam 4.00 31 Desember 2023 penghujung tahun, dimana orang-orang lain bergembira.
Setelah satu tahun menikah, aku dan suami dikaruniai seorang anak perempuan yang saya beri nama Nara, saat itu aku tidak datang ke pemakaman kakaku karena sedang hamil besar dan seminggu-2 minggu lagi masuk HPL, semuanya takut aku kenapa-kenapa dijalan, rasanya sakit sekali kenapa orang yang aku sayang ikut pergi juga setelah mama pergi, aku menangis tanpa henti sampai tidak tau siapa saja yang datang kerumah Jogja untuk menyampaikan bela sungkawanya. Sampai saatnya tiba saatnya setelah aku lahirkan anakku, ternyata takdir berkata lain, anakku di diagnosa PJB yaitu penyakit jantung bawaan, dimana salah satu "kabel" di jantungnya tidak berfungsi sempurna, Ah ada saja Tuhan memberikanku cobaan lagi.
Setelah tau anakku mengidap PJB tersebut, aku dan suami tetap memperjuagkan Nara, sampai Nara harus dirujuk ke RS Jantung di Jakarta, dari Jogja kami langsiung pergi ke Jakarta menggunakan kereta, kemudian aku singgah dirumahku bekasi, suasananya beda tidak ada mama dan kakak disana. Sudah tidak tau lagi harus bersedih seperti apa, aku hanya berusaha menjalankan hidup untuk anakku saat ini. tepat setelah pemeriksaan di RS jantung tersebut, jadwal operasi anakku keluar, Ya, anakku harus dioperasi 2 tahap, namun jika dalam 1 tindakan sudah bisa dijalani 2 tahap maka lebih baik.
Lebih Baik untukku belum tentu baiknya dari Tuhan, setelah dijalani operasi kurang lebih 9 jam, anak bayiku yang saat itu berusia 2 bulan setengah dipanggil Tuhan ditanggal 24 Maret 2026. Kalian bisa bayangkan tidak rasanya? bertubi-tubi aku kehilangan, saat yang bersamaan aku hampir gila, tidak tau harus melanjutkan hidup seperti apa. Tapi apa daya kita hanyalah manusia yang tidak tau kapan akan selesai di Bumi, tugas kita hanyalah sabar dan berusaha bangkit setiap menghadapi masalah atau kedukaan.
Pelajaran yang bisa aku ambil hanyalah tentang Waktu. Jangan pernah menganggap waktu itu lama, nyatanya waktu hanya sebentar, waktu bisa merenggut semua kesempatan semua kenangan, dan semua pelajaran kita. untuk semua anak perempuan atau laki-laki bungsu yang sudah tidak memiliki orang tua terlebih Ibu, percayalah Tuhan mempercayakan bahumu untuk melalui itu semua.
Sekian,
Salam Hangat
dari Bungsu Piatu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar